Efek domino adalah situasi ketika satu
peristiwa memicu rangkaian kejadian lain secara berurutan.
Efek domino = Ketika satu hal kecil berubah → memicu perubahan besar lainnya.
Membantu dalam pengambilan keputusan
strategis
Meminimalisasi risiko bisnis
Memprediksi dampak dari sebuah kebijakan
atau peristiwa
Menyiapkan rencana darurat (contingency plan)
Efek Domino Negatif
Ini terjadi ketika masalah kecil di satu bagian bisnis atau industri memicu keruntuhan atau gangguan di bagian lain. Contohnya:
Kebangkrutan perusahaan besar, Jika perusahaan besar bangkrut, seperti pemasok utama, maka bisnis-bisnis yang bergantung padanya juga bisa terkena imbas (misalnya produsen, distributor, atau pengecer).
Krisis finansial, Krisis di satu negara bisa berdampak ke negara lain, terutama dalam sistem keuangan global yang saling terhubung. Contohnya adalah krisis keuangan global tahun 2008.
Gangguan rantai pasok (supply chain), Ketika ada gangguan di negara produsen bahan baku (misalnya karena perang atau bencana), industri di banyak negara lain bisa terhenti produksinya.
Efek Domino Positif
Efek domino juga bisa mempercepat
pertumbuhan jika dimulai dari keputusan atau kejadian yang menguntungkan.
Contohnya:
Inovasi teknologi, Inovasi seperti internet atau smartphone memicu lahirnya banyak bisnis baru (startup, aplikasi, layanan digital).
Keputusan investasi besar, Ketika satu investor besar masuk ke wilayah tertentu, investor lain bisa ikut tertarik. Akibatnya, wilayah itu berkembang pesat (domino effect dalam pembangunan ekonomi lokal).
Tren pasar, Ketika satu produk atau layanan viral (misalnya kopi susu kekinian), bisnis lain ikut-ikutan karena permintaan pasar meningkat.
Efek domino menunjukkan betapa pentingnya keterkaitan dalam dunia bisnis. Satu langkah atau kejadian bisa berdampak luas. Oleh karena itu, pelaku usaha perlu selalu waspada dan melakukan perencanaan risiko agar bisa mengantisipasi dampak buruk dan memanfaatkan peluang dari efek domino yang positif.
